Showing posts with label kedokteran. Show all posts
Showing posts with label kedokteran. Show all posts

Friday, November 28, 2014

Pendaftaran Peserta BPJS Umum

Akhirnya bisa posting lagi... Bismillah kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya mendaftar sebagai peserta BPJS umum. Kebetulan tempat saya bekerja belum memfasilitasi keanggotaan asuransi bagi karyawan barunya. Sehingga mau tidak mau saya harus mengurus pendaftarannya sendiri. Apalagi menurut saya asuransi ini sangat penting, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita besok atau lusa. Bukan berdo'a semoga sakit, akan tetapi pencegahan lebih baik daripada mengobati. Setidaknya dengan adanya asuransi kesehatan apabila terjadi sesuatu hal maka biaya pengobatan akan sedikit banyak tercover dari program asuransi tersebut. Selain itu, setelah saya membaca sebuah artikel yang memuat informasi bahwa keanggotaan BPJS ini akan menjadi "sangat penting". Wacananya kelak pembuatan passport, buku nikah, SIM dan STNK harus menyertakan kartu BPJS. Untuk itu saya mulai mencari informasi berkaitan dengan pembuatan kartu BPJS ini.

Awalnya saya berencana untuk melakukan pendaftaran secara online melalui website BJPS agar prosesnya lebih cepat dan tidak harus mengantri lama. Akan tetapi ternyata pendaftaran online tersebut sudah tidak dapat dilakukan. Sehingga saya harus mendaftar secara langsung ke kantor BPJS terdekat. Kebetulan domisili saya di wilayah Cimahi Selatan maka saya mendatangi BPJS Kantor Layanan Operasional Kota Cimahi yang berlokasi di Komplek Kotamas Jl. Kotamas Raya No. 1 Cimahi. Nah untuk kalian yang ingin melihat Alamat Kantor BPJS di wilayah/regional kalian, kalian dapat melihatnya disini. 

Saya sudah bisa membayangkan bagaimana mengantrinya saat proses pendaftaran nanti seperti yang teman saya informasikan bahwa saya harus datang sepagi mungkin untuk mengambil nomor antrian. Karena layanan perharinya dibatasi hanya 100 peserta kalau tidak salah. Kalau bisa datang dari jam 04.00 WIB katanya. Membayangkannya saja saya sudah malas. Saya datang ke BPJS KLOK Cimahi pukul 06.30 WIB, saya pikir saya tidak akan kebagian nomor antrian tetapi beruntung saya masih mendapat nomor antrian bahkan masih termasuk nomor urut kecil. Saya mendapat nomor urut 37. Katanya sih kalau Jum'at memang antriannya tidak terlalu banyak. Mungkin  karena nanti terpotong oleh solat Jum'at jadi tidak sebanyak hari-hari biasanya. Saya mendengar ada ibu-ibu yang datang sejak pukul 05.30 WIB dan mendapat nomor antrian 10. mereka sengaja datang subuh hanya untuk mengambil nomor antrian tanpa sempat mandi ataupun berdandan. Setelah mengambil nomor mereka pulang ke rumah untuk bersiap-siap karena loket pelayanan baru dibuka pukul 08.00 WIB.

Saat pengambilan nomor antrian di bagian security, mereka akan memeriksa kelengkapan persyaratan pendaftarannya, seperti Formulir pendaftaran (minta ke security atau petugas yang memberikan nomor antrian), Fotocopy Kartu Keluarga (KK), Fotocopy KTP, Fotocopy Buku Rekening Tabungan dan Pas Photo ukuran 3x4. Menurut informasi saat pendaftaran per tanggal 1 November 2014 pendaftaran BPJS umum hanya dapat dilakukan secara kolektif, tidak dapat dilakukan perorangan. Maksudnya yaitu ketika mendaftar semua nama yang tercantum dalam Kartu Kelurga (KK) harus didaftarkan juga secara kolektif. Boleh diwakilkan asal seluruh persyaratan lengkap. Bank yang dapat digunakan untuk pendaftaran BPJS diantaranya Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Negara Indonesia (BNI) dan harus konvesional, bukan syariah. Untuk persyaratan Fotocopy Buku rekening, masing-masing calon peserta BPJS harus memiliki nomor rekening pribadi.

Saat pendaftaran, kita tinggal menyerahkan seluruh persyaratan dan petugas BPJS akan menginputkan data kita. Oh iya sebagai informasi dalam formulir pendaftaran kita dapat memilih fasilitas kesehatan yang akan kita gunakan dan kelas perawatan. Pemilihan kelas perawatan ini akan menentukan banyaknya iuran setiap bulan yang harus kita bayarkan. Ada 3 (tiga) pilihan kelas perawatan, diantaranya kelas I Rp. 59.500,-, Kelas II Rp. 42.500,-, dan kelas III Rp. 25.500,-. Iuran dilakukan maksimal tanggal 10 setiap bulannya. Bagi peserta BPJS yang mendaftar lebih dari tanggal 26 pada bulan tersebut, baru akan dikenakan biaya pada bulan berikutnya. Fasilitas kesehatan dapat dipilih tergantung dari Puskesmas, Klinik atau dokter pribadi yang peserta BPJS inginkan.

Setelah proses input selesai dilakukan oleh petugas BPJS, maka petugas akan memberikan semacam tanda terima yang memuat nomor rekening virtual dan jumlah iuran yang harus kita bayarkan. Setelah itu, kita dapat mendatangi bank untuk melakukan transaksi pembayaran dan menerima bukti pembayaran. Bukti pembayaran tersebut digunakan kembali untuk mengambil kartu BPJS yang telah dicetak di tempat kita mendaftar BPJS. Kartu yang kita terima saat itu, baru dapat digunakan setelah 7 hari. Sebelumnya saya sempat mendengar kartu tersebut awalnya dapat langsung digunakan akan tetapi mungkin untuk menertibkan administrasi maka diambilah kebijakan dimana kartu tersebut baru dapat aktif setelah 7 hari dari pendaftaran. Untuk kalian yang sudah kadung memiliki Kartu ASKES atau JKN, tidak perlu kuatir karena kartu-kartu tersebut masih memiliki kegunaan yang sama dan diterima juga sama seperti kartu BPJS ini.

Kartu BPJS

Sekian Informasi dari saya, semoga bermanfaat :)

Sunday, September 22, 2013

Surat Keterangan Bebas Narkoba

Karena ada beberapa temen bloger yang memberikan pertanyaan seputar Surat Keterangan Bebas Narkoba dari Rumah Sakit Dustira, Cimahi pada postingan sebelumnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat postingan tambahan. Berikut ini gambaran surat hasil keterangan hasil pemeriksaan laboratorium dari hasil tes urin yang kemudian hasilnya dikonsultasikan dengan dokter di Poli Kejiwaan.

Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dari hasil konsultasi saya mendapatkan surat keterangan seperti pada gambar berikut, yang kemudian saya bawa ke bagian infokes untuk dicatat dan diberikan cap di bagian belakang lembaran suratnya.

Surat Keterangan Bebas Narkoba
Untuk Alamat lengkap Rumah Sakit di Bandung dan Cimahi yang saya tau mengeluarkan surat keterangan bebas narkoba diantaranya yaitu:
  1. Rumah Sakit Dustira, Cimahi (Rumah Sakit Swasta)
  2. Jl. Rumah Sakit No. 1, Cimahi, Jawa Barat, Indonesia 
    (022) 6652156
  3. Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung (Rumah Sakit Pemerintah)
  4. Jl. Pasteur No. 38, Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
    (022) 2034953/57

    Semoga infonya bermanfaat :D

    Friday, October 12, 2012

    Membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba

    Sudah lama sekali saya ingin membuat postingan tentang pembuatan surat keterangan bebas narkoba. Tapi apa daya rasa malas nampaknya lebih kuat menarik diri saya untuk tidak membuat postingan. Saat ini saya sedang disibukkan dengan kegiatan saya untuk melamar kerja (baca: sok sibuk). Saya baru tahu kalau ternyata di beberapa perusahaan ada yang memberikan persyaratan surat bebas narkoba juga. Wah...lumayan berat juga ya (berat di dompet maksudnya). 

    Alhasil mau tidak mau saya harus membuat surat keterangan tersebut. Saya sempat kebingungan juga mencari referensi tempat membuat surat keterangan bebas narkoba di daerah cimahi, kebetulan ini tempat domisili saya berada. Saya coba tanya ke beberapa teman ternyata tidak ada yang mengetahuinya. Akhirnya jalan satu-satunya ya tanya om google. Saya coba cari referensi tempat dan biaya yang paling murah diantara pilihan yang ada. Sebetulnya teman saya sempat mengatakan bahwa Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung juga  dapat mengeluarkan surat keterangan bebas narkoba, hanya saja biayanya mencapai 185rb kalo tidak salah (CMIIW). Setelah menelusuri mesin pencarian dapatlah informasi bahwa Polres Cimahi dapat mengeluarkan surat keterangan bebas narkoba. Akan tetapi mereka tidak memiliki lab untuk pemeriksaannya, sehingga pemeriksaan dilakukan di laboratorium seberang Polres. Setelah saya pikir-pikir lebih baik saya coba saja tes lab di Rumah Sakit supaya sekalian bisa minta surat keterangan sehat. Baru nanti pulangnya sekalian ke Polres untuk update SKCK.

    Akhirnya saya bergegas menuju Rumah Sakit Umum Cibabat. Disana saya menemui bagian informasi di Gedung C, akan tetapi ternyata RSU Cibabat tidak mengeluarkan surat keterangan bebas narkoba dan menyarankan saya untuk ke Rumah Sakit Dustira. Langsung saja saya meluncur ke RS. Dustira. Seperti biasa, saya parkir kendaraan di parkir timur. Lalu masuk untuk melakukan pendaftaran. Tapi karena saya tidak tahu prosedur pendaftaran untuk umum (biasanya nganter ibu daftar ASKES), saya coba datangi loket pendaftaran ASKES. Dari sana diarahkan untuk menuju Laboratorium yang letaknya di dekat parkir timur. Sayapun berjalan menuju Laboratorium di dekat parkir timur tersebut. Eh...setelah sampai disana ternyata untuk membuat surat bebas narkoba bukan disana tempatnya.  Saya diminta untuk menuju pintu masuk UGD dan menuju loket informasi. Tiba di loket informasi saya diminta melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Ealah...jadi disuruh kesana kesini gini. Mana saya tidak tahu letak pendaftaran umum dimana. Akhirnya saya kembali ke loket pendaftaran ASKES untuk meminta petunjuk. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Loket pedaftaran umum. dan ternyata letaknya tidak jauh dari pintu UGD. Baiklah itung-itung tur rumah sakit. Kemudian di meja informasi pendaftaran saya diminta mengisi form pendaftaran. Lalu menuju kasir. Hampir di setiap tempat yang saya singgahi menanyakan keperluan penggunaan surat keterangan bebas narkoba tersebut. Mungkin takut disalahgunakan atau semacamnya mungkin ya. Ternyata biaya yang harus saya keluarkan untuk pembuatan biaya surat keterangan bebas narkoba disana adalah 125rb. Saya merasa beruntung karena ternyata harganya masih jauh lebih murah jika dibandingkan saya membuatnya di tempat lain.

    Sesuai arahan saya menuju poli jiwa. Lho...Saya sempet kaget juga. Lah kok malah ke poli jiwa ya? Bagi saya yang awam tentang dunia medis, mendengar kata Poli Jiwa kesannya sudah negatif. Di bayangan saya yang terbesit adalah orang-orang yang terganggu kejiwaannya. Sayapun memberikan surat pengantar dari loket pendaftaran ke loket di Poli Jiwa. Saya melihat berkeliling. Apa yang salah ya sama orang-orang di sekeliling saya ini? Tampak tidak ada yang salah dengan mereka. Ada Bapak-Bapak tua, Ada Ibu-Ibu setengah baya, ada anak kecil, bahkan ada balita juga. Saya jadi penasaran Poli Jiwa itu menangani masalah apa saja sih? mungkin pikiran saya terlalu terkotak-kotak bahwa poli jiwa hanya khusus bagi orang yang mengalami gangguan kejiwaan alias mental. Tapi nampaknya sih bukan itu saja. Entahlah...

    Setelah menunggu giliran akhirnya tiba giliran saya. saya diminta untuk menampung urine di sebuah wadah seukuran tempat agar. Lebih tepatnya sih memang tempat agar. Saya kira urine tersebut akan dibawa ke lab untuk dites. Tapi ternyata tidak. Mereka cukup mengetesnya diruangan pemeriksaan pasien. nampaknya menggunakan alat sederhana. Mungkin hanya meneteskan sampel urine pada kertas kemudian ditambahkan suatu larutan yang bisa menunjukkan keberadaan zat adiktif, salah duanya amphetamin (AMP) dan morphin (MORP). Saya agak deg-degan juga sih takut-takut hasilnya positif. Karena bukan tidak mungkin kita gagal tes bebas narkoba. Salah satu teman saya sempat bilang temannya sempat gagal tes bebas narkoba karena ditemukan zat adiktif di urine nya yang ternyata itu akibat dari obat yang diminumnya beberapa hari itu karena dia memang sedang sakit, dan obat tersebut mengandung obat tidur. 

    Akhirnya tidak lama kemudian hasilnya keluar saya diminta menemui dokter di dalam ruangan untuk mengkonsultasikan hasilnya. Ada beberapa koas disana. :D Saya suka agak segan sebetulnya kalo periksa tapi banyak koas yang melihat. Merasa agak kuras privasi untuk curhat tentang keluhan penyakit misalnya. Tapi untungnya hari itu koas nya tidak ikut masuk. Mungkin mereka memang hanya melihat kasus-kasus yang penting yang perlu dipelajari lebih dalam. Dan Alhamdulillah hasilnya negatif. Saya bisa sedikit bernafas lega. Sayapun langsung keluar ruang pemeriksaan dengan menggenggam selembar kertas surat keterangan bebas narkoba dari dokter. Kemudian dibubuhi cap di loket poli jiwa. baru kemudian ke bagian infokes untuk diberi cap dan semacam dicatat berita acaranya (halah..apa ya istilahnya? Pokonya itulah).

    Tanpa berpikir panjang saya langsung pergi menuju parkir timur untuk bergegas menuju Polres Cimahi. Tapi kok dipikir-pikir saya kok gak minta salinannya ya? Hadeuh...masa 1 lembar 125rb. Ya sudahlah kita coba di Polres siapa tau mereka mau membuatkan surat keterangan bebas narkoba dengan menggunakan hasil lab di luar. 

    Setibanya di Polres, saya langsung memperbaharui SKCK saya. Sekalian menanyakan tentang pembuatan surat bebas narkoba. Dan...dan...dan ternyata di Polres bisa membuat surat keterangan bebas narkoba dengan biaya 100rb plus legalisirannya. (hiks...nangis darah) dan yang lebih mirisnya lagi kita tidak bisa meminta surat bebas narkoba dengan surat keterangan hasil lab dari luar karena sudah sepaket katanya. Baiklah mungkin saya kurang sedekah. Jadi pembelajaran saja setidaknya sekarang saya sudah paham prosedurnya. Semoga infonya bermanfaat. Maaf kalo postingannya terlalu kepanjangan dan berbelit-belit :D

    Sunday, August 26, 2012

    Farewell (Part I)

    Hari jum'at kemarin saya berniat untuk ke kampus menemui salah satu sahabat saya sekaligus teman satu kelompok tesis saya Mira. Tadinya kami berniat untuk bersilaturahmi ke bagian Kedokteran Nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Rencana tersebut memang agak mendadak sebenarnya. Karna kebetulan minggu ini bisa dibilang masih masuk masa-masa libur lebaran. Tapi berhubung sahabat saya itu akan segera meninggalkan Bandung untuk menetap di Tangerang. Maka saya mengusulkan agar kami segera bersilaturahmi ke sana secepatnya sebelum dia berangkat. Untuk itu saya dan Mira memutuskan untuk bertemu di kampus agar bisa membeli beberapa buah souvenir sebagai kenangan-kenangan yang akan diberikan pada pihak kedokteran nuklir terutama pak Iman yang telah memberikan banyak sekali bantuannya selama kami menyelesaikan penelitian atau lebih tepatnya pengambilan data untuk bahan tugas akhir kami tersebut.

    Saat tiba di kampus kami langsung bergegas menuju KOPMA (Koperasi Mahasiswa) yang terletak di sebelah barat laut kampus dekat SBM, tapi sayangnya KOPMA nya masih tutup. Tidak aneh juga sih karna saat itu suasana kampus masih cukup sepi. walaupun ada acara halal bihalal sebenarnya di Labtek VIII. Kemudian kami pergi ke Salman berharap disana ada secercah pengharapan. Tapi ternyata masih tutup juga. Akhirnya kami memutuskan untuk menunda silaturahmi ke Kedokteran Nuklir sampai Mira punya waktu berlibur ke Bandung. 

    Nah yang menarik, hari itu sebenarnya merupakan batas akhir pengumpulan revisi paper untuk diikut sertakan dalam sebuah seminar internasional yang biasa diadakan oleh jurusan saya. Dan saya masih belum memutuskan apakah akan mengirim kembali atau tidak. Karena ada sedikit masalah yang membuat saya kesulitan untuk memperoleh informasi berupa notifikasi no paper saya yang diterima. Dalam suasana yang lagi serba riweuh alias ribet. Saya malah mengajak Mira untuk menonton film karena kebetulan hari jum'at ini ada nonton gratis bagi pengguna Telkomsel, Movie Mania. Dengan cara menukarkan 100 poin yang kita miliki dengan 1 buah tiket nonton gratis. Setelah saya cari info dari teman saya tentang Movie Mania tersebut. Ternyata masih ada dan tempatnya masih agak simpang siur, ada yang bilang di PVJ tapi ada yang bilang udah balik lagi ke Ciwalk. Akhirnya kami nekad pergi ke Ciwalk. Kalo memang di Ciwalk tidak ada ya udah berarti gak jadi nonton. Hahaha. Dasar ya!! maklum masih mental gratisan namanya juga baru aja lepas dari status mahasiswa. 

    Setelah kami pergi ke Ciwalk, untungnya emang bener Movie Mania nya udah balik lagi ke Ciwalk. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton Film Perahu Kertas. Kata orang-orang sih filmnya bagus dan dulu salah satu murid saya juga bilang kalau novelnya juga bagus. Jadi gak ada salahnya dicoba. Disatu sisi karena Mira membawa adiknya yang masih kelas 2 SMP, rata-rata film yang diputer bergenre Dewasa dan hanya ada dua film yang bergenre Remaja, yaitu Perahu Kertas dan The Dark Knight Rises.Kamipun menukarkan poin telkomsel kami di meja pembelian tiket dengan jalur antrian khusus untuk penukaran poin. Antrinya cenderung sepi sih. Mungkin karena orang-orang pada gak tau info tentang Movie Mania ini kali ya yang baru dipindah lagi ke Ciwalk. 

    Setelah memegang tiket masing-masing, tidak lama kemudian kami masuk ke Theater 7. Lumayan kursinya gak begitu penuh jadi kami dapat posisi yang lumayan asik. Selama pemutaran film saya dan sahabat saya malah asik mengomentari karakter Kugy dalam film tersebut. Aslinya seneng sama pemeran Kugy itu, kayaknya anaknya cheerfull, lucu dan asik. Mukanya cantik banget sih enggak tapi entah kenapa ngeliatnya tuh menarik dan gak bikin bosen. Paling suka kalau dia udah pasang kedua jari telunjuknya di kepalanya seolah-oleh itu ia imajinasikan sebagai radar. Satu lagi tokoh yang menarik buat saya adalah Keenan. karakternya di film itu menurut saya dia itu cool, cerdas, baik, dan senang dengan seni. Keseluruhan film lumayan menarik sih menurut saya ceritanya gak ngebosenin karena dihidupkan oleh karakter-karakternya terutama Kugy. Tapi sayangnya kok ya ceritanya bersambung gitu, jadi berasa nonton sinetron aja. hehe. Maaf ya komennya gak mutu, agak awam kalo ngomen masalah film. Dari sepanjang pemutaran film tersebut penonton ketawa paling heboh cuma pas bagian hampir akhir dimana Eko salah pengucapan ijab kobul saat menikahi Noni sahabat Kugy.

    Setelah pemutaran film selesai, saya harus segera menghubungi salah satu dosen pembimbing saya lagi untuk memastikan tentang paper saya. Bukannya langsung pulang, malam itu saya dan Mira malah pergi makan dulu. Padahal batas akhir pengumpulan paper adalah malam itu dan saya belum mengedit papernya sama sekali. Setelah makan barulah saya bergegas pulang ke rumah. Langsung membuka laptop dan mengedit paper saya. Dan Ternyata...paper yang saya submit waktu itu hancur lebur bahasanya. Parah harus ngedit ulang. Dengan kecepatan super berharap selesai sebelum tengah malam. Saya coba edit semuanya dari mulai translatenya, font hurufnya, dan format penulisannya harus benar-benar menyesuaikan dengan format paper IEEE. Setelah saya selesai mengedit, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Wah...saya harus secepatnya mengirimkan papernya. Sebelum dikirim ternyata saya harus menconvert paper saya tersebut melalui sebuah situ converter yang disediakan oleh panitia. Lumayan banyak menghabiskan banyak waktu dikala waktu udah mepet gitu karena harus buat akun dlu dan nunggu konfirmasi, kemudian setelah convert harus tunggu balasan email hasil convertnya. baru kemudian download. Ya intinya banyak tahapannya. Tapi ya akhirnya terkirim juga walopun satu tahapan lagi gagal saya upload gara-gara keburu di-close. #nangisdarah

    Tapi Alhamdulillah seenggaknya saya sudah menyempatkan diri untuk menemai teman saya memanfaatkan sisa waktunya di Bandung. Sabtu ini kami berpisah untuk menjemput masa depan kami masing-masing. Tapi semoga secepatnya saya bisa segera menyusul untuk bekerja di wilayah Jabodetabek sana. Aamiin.

    Saya, Mira dan teman-teman TMDG 5 nonton di Ciwalk
    Karena gak inget foto-foto, jadi yang diupload foto waktu nonton di Ciwalk juga tapi dulu saat bersama teman-teman TMDG 5. Tapi setidaknya mewakili foto saya dan mira sedang duduk bersebelahan. Ternyata saya baru sadar, kami jarang sekali berfoto bersama.  :D

    Cerita di Twitterland


    Udah lumayan lama juga gak posting. Kebeneran lagi ada bahan buat ditulis dan semoga aja gak males buat lanjut nulis. Kali ini ceritanya agak nyenggol ranah kedokteran dikit. Saya memang bukan anak kedokteran tapi kebeneran emang tertarik aja sama dunia kedokteran dan kesehatan. Mungkin karna cita-cita kecil yang gak tercapai juga kali ya gara-gara takut darah dan mayat walhasil gak berani buat masuk jurusan yang satu itu. Tapi tetep sih ketertarikan sama bidang yang satu ini gak pernah ilang. Di twitter pun yang difollow banyaknya akun dokter dan info kesehatan. Lumayan juga jadi banyak tau ilmu tentang kesehatan yang berguna buat kita juga.

    Nah ceritanya ada satu dokter yang saya follow, om dokter ini tweetnya cukup saya tunggu-tunggu. Beliau ini adalah salah satu dokter spesialis mata sekaligus penulis buku dan pernah stand-up comedy. Orangnya kocak dan asik kalo nge-tweet, baik itu cuma info biasa ataupun hal yang serius sekalipun selalu dibikin seru. Ada cerita yang menurut saya agak seru sih di twitterland akhir-akhir ini judulnya dagelan #AMkes. Awalnya saya penasaran apaan sih dagelan #AMkes ini dan apa hubungannya sama program #dokterpakcomblang yang suka diadain sama om dokter yang saya suka itu tiba-tiba aja dihapus dan gak bakal diadain lagi. Padahal berdasarkan hasil pemantauan selama ini program #doktercomblang ini udah berjalan lama, bahkan udah terjadwal tiap tanggal 14 setiap bulannya. Buat yang belom tau #dokterpakcomblang itu apa, jadi program itu sebenernya program iseng-iseng buat bantu anak-anak koass biar gak kelamaan jomblo. Jadi anak-anak koass bisa nge-tweet promosiin diri mereka dengan nambahin hashtag #dokterpakcomblang. Nah nanti tweet yang menarik bakalan dibantu promo dengan cara di-RT sama om dokter. Selain program #dokterpakcomblang, ada juga #koassbobo. Kalo untuk #koassbobo ini, lebih ke nge-tweet foto-foto para koass yang tidur dalam berbagai posisi hasil dari semacem hiden camera ulah iseng rekan koass lainnya. Caranya ampir sama juga kayak yang  #dokterpakcomblang, biasanya followernya om dokter yang koass bakalan ngetweet foto-foto #koassbobo ke om dokter. Terus entar yang paling menarik bakalan di-RT sama om dokter. 

    Nah berawal dari situ bakat kepo mulai muncul. Aku coba cari tau ke akun salah satu rekan twitter yang kuliah di kedokteran. Dan ternyata cerita dagelan #AMkes ini udh sejak beberapa hari yang lalu udah rame dibicarain mereka. Dan akhirnya aku nemu satu akun kunci yang mengupas tuntas tentang dagelan #AMkes ini. Kisahnya dramatis tragis gimanaaaa gitu. Pas baca berasa kayak kisal di novel-novel banget. Tapi bagus banget nih yang nyajiin ceritanya, berasa jadi kayak baca cerita misteri detektif-detektifan. Kerennya yang nulis rajin bener ngulik masalah itu sampai akhirnya terungkap semua permasalahannya. Gak kebayang itu ngubek-ngubek akun twitter para tokohnya. Di satu sisi agak kasian juga sih sebenernya sama tokoh dalam cerita itu. Mungkin itu suatu obsesi juga kali ya punya pacar dokter. Makanya sampe yang bersangkutan bikin akun bahkan tokoh-tokoh khayalan yang meyakinkan temen-temen deketnya bahwa dia pacaran sama dokter. Pokonya kalo baca ceritanya dia terkesan niat banget sampe bikin beberapa akun dan bikin tweet-tweet dengan istilah-istilah kedokteran segala. Cerita lengkapnya bisa diliat disini.

    Nah ternyata cerita inilah yang jadi salah satu pertimbangan ditutupnya #dokterpakcomblang. CMIIW. Terungkapnya cerita ini juga mungkin bisa jadi bahan pembelajaran juga bahwa kenyataan sebenernya yang pahit sekalipun akan jauh lebih baik ketimbang kebohongan yang manis sekalipun. Dan mungkin buat kebanyak cewek-cewek profesi dokter terkesan wah. Memanga sih gak bisa dipungkirin profesi dokter salah satu profesi yang bisa dibilang bergengsi karena gak sedikit biaya yang harus mereka keluarkan untuk menyelesaikan pendidikannya, belom lagi perjuangan mereka buat nyelesein sekolahnya yang gak sebentar. Kalo gak salah buat jadi dokter umumnya aja mereka harus ngelewatin 4 tahun masa pendidikan kedokteran, cepetnya bisa 3.5 tahun, terus koass 2 tahun, selanjutnya harus tes UKDI, terus intership atau magang, baru deh bisa buka praktek, terus entar ada PPT juga yang kalo gak salah juga harus diikuti sebelum mereka bisa ambil spesialis, baru pendidikan spesialis selama kurang lebih 3.5-5 tahun kalo gak salah juga tergantung spesialis yang mau diambilnya. Perjuangan yang panjang tapi semoga ilmunya juga bermanfaat buat orang-orang di sekelilingnya. Salut deh buat temen-temen di kedokteran.
    Akhir kata, pokonya ambil ilmu yang bisa diambil yang jeleknya tinggalkan ya jangan ditiru. :D